| Aetra Pangkas Produksi |
|
Corporate Secretary Aetra Yosua L. Tobing mengatakan kekeruhan air baku yang dialirkan melalui saluran Tarum Barat cenderung terus meningkat hingga 28.000 Nephelometric Turbidity Unit (NTU) dari kondisi normalnya 50 NTU. "Kualitas air baku seburuk itu terjadi terus-menerus sehingga produksi terpaksa kami turunkan sekitar 50%. Akibatnya, sebagian area Jakarta Utara dan Jakarta Timur mulai mengalami gangguan suplai air," katanya kemarin. Yosua mengatakan kualitas air baku bagi Aetra sangat dipengaruhi oleh aktivitas di sepanjang aliran sungai mulai dari waduk Jatiluhur di Purwakarta, Jawa Barat, hingga Jakarta melalui kanal Tarum Barat. Kemudian, lanjutnya, kanal tersebut juga dilintasi sungai Bekasi yang tingkat pencemarannya sangat tinggi. "Kondisi air baku yang semakin keruh itu mengharuskan tim Aetra bekerja lebih keras lagi dalam memproduksi air olahan, termasuk menambah biaya produksi agar dapat dihasilkan air bersih dengan standar air minum," ujarnya. Yosua mengatakan tim Production dan Trunk Main Aetra secara terus-menerus memantau kondisi air baku dengan melakukan pengamatan dan pengukuran setiap saat di instalasi pengolahan air Buaran di Kali Malang Jakarta Timur. Sementara itu, anggota Badan Regulator Pelayanan Air Minum (BR-PAM) DKI Firdaus Ali mengatakan alternatif untuk mencari sumber air baku baru layak diusahakan di samping menyelesaikan proyek pemipaan saluran Tarum Barat. Dia mengakui tingkat ketahanan air minum di Jakarta sangat rendah karena tingginya pencemaran pada 13 aliran sungai yang melintasi kota. Menurut proyeksi BR-PAM DKI, pasokan air baku untuk Palyja dan Aetra akan mengalami defisit yang cenderung meningkat dari 6.867 liter per detik pada 2010 menjadi 13.045 liter per detik pada 2015 dan 28.370 liter per detik pada 2020. |