Berita Berita
Palyja targetkan jual 155 juta meter kubik air

Jakarta   :  24  Februari 2012

 

Sumber   :  www.kontan.co.id

 

Oleh Bernadette Christina Munthe

 

 

JAKARTA. Kebutuhan air bersih yang tak pernah surut membuat PT Palm Lyonnaise Jaya (Palyja) optimistis bisa menjual air sebanyak 155 juta meter kubik (m³) hingga 160 juta m³ tahun ini. Target ini meningkat 1,1%-4,37% dari penjualan 2011 yang sebesar 153,3 juta m³.

Wakil Presiden Direktur Palyja, Herawati Prasetyo, mengatakan, saat ini ketersediaan sumber air bersih masih menjadi kendala yang harus dihadapi perusahaan. Tahun lalu, dari total produksi 256 juta m³ air, sebanyak 88 juta m³ air atau 34,34% berasal dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Tangerang.

Sebanyak 65,66% air lainnya diperoleh dari Waduk Jatiluhur. "Ke depan kami khawatir pasokan dari Tangerang turun seiring dengan pertumbuhan daerah itu. Pemerintah perlu memikirkan alternatif sumber air nanti dari mana," kata Herawati kepada KONTAN, Kamis (23/2).

Tahun lalu Palyja membeli air bersih dari PDAM Kabupaten Tangerang dengan harga rata-rata Rp 2.205 per m³ atau senilai Rp 194 miliar. Sementara harga beli air baku dari Jatiluhur berkisar Rp 172 per m³ atau Rp 28,9 miliar sepanjang tahun lalu.

Herawati memprediksikan, penjualan air dari pelanggan non-domestik di Jakarta tahun ini akan meningkat. Pasalnya, Pemerintah Daerah DKI Jakarta baru saja menaikkan harga air tanah menjadi Rp 23.500 per m³. Sementara harga air Palyja untuk konsumen nondomestik lebih murah, yakni sekitar Rp 12.550 per m³.

Meyritha Maryanie, Kepala Komunikasi dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Palyja, menambahkan, tahun ini perusahaan penyedia air bersih ini menargetkan penambahan 10.000 hingga 12.000 sambungan air. Hingga akhir tahun 2011 lalu Palyja telah memiliki 414.470 sambungan air.

Jumlah sambungan air ini melejit 97,4% dari sambungan pada tahun 1998 yang mencapai sekitar 209.895 sambungan. "Penambahan ini akan memperhatikan lokasi dan daya dukung jaringan," kata Meyritha.

Menurut Meyritha, sebenarnya jaringan Palyja lebih mampu untuk melayani pelanggan baru di Jakarta Selatan. Tapi selama ini permintaan kebanyakan dari Jakarta Barat.

Agar tetap bisa memenuhi kebutuhan pelanggan, Palyja pun akan melakukan efisiensi dan pengurangan kebocoran air alias non revenue water (NRW). Pada 2011, NRW Palyja berhasil ditekan turun menjadi 39% dari NRW 2010 yang mencapai 42,3%. Nah, tahun ini, Palyja berharap kebocoran air bisa ditekan menjadi 37%-38%.

Menurut Herawati, kebocoran air ini selain disebabkan oleh kerusakan fisik pada jaringan distribusi air, ada pula yang dicuri atau anomali pada meteran air. "NRW ini maksimal bisa ditekan turun sampai 25%. Untuk lebih dari itu perlu investasi besar untuk memperbaiki jaringan," kata Herawati. Tahun lalu, Palyja sudah memperbaiki 58.346 kebocoran, naik 39,71% dari perbaikan sepanjang 2010 yang sebanyak 41.762 kebocoran.

Untuk mendukung sederet aksi tersebut, Palyja sudah mengalokasikan modal 2012 sebesar Rp 120 miliar. Modal ini naik 3,44% dari belanja modal 2011 yang sebesar Rp 116 miliar.

 

 
Siap-siap! Besok di Daerah Ini Air PAM Berhenti Mengalir

Jakarta  :  17 Februari 2012

 

Sumber  :  www.detik.com

 

Jakarta - PT PAM Lynnaise Jaya (Palyja) mengumumkan adanya beberapa fasilitas produksi dan distribusi air bersih Palyja yang terganggu akibat pemeliharaan gardu listrik PLN. Besok aliran air PAM di beberapa wilayah Jakarta terganggu. Dimana saja?

Humas Palyja Meyritha Maryanie menyatakan, pihak PLN akan melakukan pemeliharaan gardu listrik berupa penambahan daya, penggantian relay, dan Kwh meter. Ini menyebabkan aliran listrik di instalasi pengolahan air Palyja di Pejompongan, Jakarta Selatan padam pada Sabtu (18/2/2012).

"Palyja memerlukan waktu beberapa jam untuk kembali memproduksi air bersih dan mendistribusikannya kepada pelanggan," ujar Meyritha dalam siaran pers, Sabtu (17/2/2012).

Adapun wilayah di Jakarta yang pasokan airnya terhenti adalah:

Kuningan Timur, Karet Kuningan, Menteng, Pegangsaan, Guntur, Manggarai, Manggarai Selatan, Gondang Dia, Cikini, Pasar Manggis, Kebon Kelapa, Pasar Baru, Ancol, Penjaringan, Pekojan, Tambora bagian Utara, Jembatan Lima Angke Bagian Utara, Mangga Besar, Mangga Dua Selatan Bagian Utara, Pinangsia, Roa Malaka, Pluit, Jembatan besi, Angke, Tanjung Duren Utara, Jelambar Baru Bagian Utara, Wijaya Kusuma Bagian Barat.

Wilayah Jakarta yang pasokan airnya menurun adalah:

Karet Semanggi, Karet, Setiabudi, Karet Tengsin, Bendungan Hilir, Gelora, Menteng Atas, Kebon Sirih, Kebon Melati Bagian Timur, Kebon Kacang Bagian Timur, Kampung Bali Bagian Timur, Gambir, Petojo Selatan, Kartini, Karang Anyar, Maphar, Taman Sari, Tangki, Mangga Besar Bagian Selatan, Petamburan, Slipi, Kota Bambu, Tomang & Grogol, Cideng, Kebon Melati, Kebon Kacang, Kampung Bali, Kemanggisan, Palmerah, Petojo Utara, Krukut, Tanah Sereal, Duri Pulo, Duri Selatan, Kali Anyar, Krendang, Duri Utara, Keagungan, Glodok, Tambora, Jembatan Lima, Suka Bumi Utara, Duri Kepa, Tanjung Duren Selatan, Kebon Jeruk, Kedoya Selatan, Kapuk Muara & Pejagalan, Jelambar Baru, Wijaya Kusuma, Jelambar.

"Pasokan air bersih Palyja akan kembali normal secara bertahap mulai Sabtu (18/2/2012) pukul 20.00 WIB sampai dengan Minggu (19/2/2012). Palyja mengimbau seluruh pelanggan agar mulai mengisi bak-bak penampungan dan menghemat penggunaan air guna mengantisipasi gangguan suplai air," papar Meyritha.

 

(dnl/hen)

 
Jakarta Masih Kekurangan Air Bersih

Jakarta  :  17 Februari 2012

 

Sumber  : www.republika.co.id

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Warga DKI Jakarta masih kekurangan pasokan air bersih sekitar 3 ribu liter per detik. Data PAM Jaya menyebutkan, kebutuan pasokan air di Jakarta sebanyak 21 ribu liter per detik. Namun, saat ini pasokan yang mampu disediakan PAM Jaya hanya sekitar 18 ribu liter per detik.

Direktur Utama PAM Jaya, Sriwidayanto mengatakan, kekurangan tersebut akan diupayakan dalam dua tahun ke depan. ‘’Kami ingin meningkatkan air ke Jakarta dan sekitarnya. Khusus Jakarta, kami ingin meningkatkan lagi menjadi 21 ribu liter per detik,’’ ujar Sriwidayanto, di Jakarta, Jumat (17/2).

Menurutnya, saat ini masih banyak daerah-daerah yang membutuhkan pasokan air bersih. Pemenuhan sisa kebutuhan air bersih tersebut bisa diperoleh dari pasokan air Waduk Jatiluhur dengan cara mengganti pipa yang lebih besar.

PAM Jaya berharap, proyek penggantian pipa tersebut dapat terselesaikan pada 2015 mendatang. Ini dimaksudkan agar pasokan air minum di semua daerah dapat tercukupi.

 
PAM Jaya Dituding Rugikan Negara Rp 561 M

Jakarta  :  01 Ferbruari 2012

 

Sumber  :  www.jpnn.com

 

 

Tarif Air Ditinggikan, ICW Lapor KPK

 

 

JAKARTA - Pasokan air bersih yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat ibu kota belum terlayani baik. Ironisnya, di tengah tingginya keluhan pelanggan air bersih, pemberlakuan tarif air bersih di Jakarta malah dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi. Tuduhannya adalah ada kesepakatan tarif air bersih sengaja ditinggikan untuk memberi keuntungan berlebih kepada pihak swasta.

Dugaan korupsi tarif air bersih tersebut dilaporkan Indonesia Corruption Watch (ICW) bersama Koalisi Masyarakat untuk Hak Atas Air (KruHa) ke KPK, Selasa (31/1). Peneliti senior ICW, Agus Sunaryanto menyebutkan, dugaan korupsi tarif air bersih itu sangat kentara. Tindakan tersebut dimulai dari mekanisme penetapan harga air bersih lebih tinggi dari perusahaan lainnya. 

"Jadi PT PAM Jaya dan mitra swastanya kongkalikong melakukan penyimpangan tarif air bersih. Akibatnya masyarakatlah yang dirugikan," tutur dia usai menyerahkan berkas laporan dugaan korupsi tarif air di gedung KPK.

Menurutnya penyimpangan tersebut sengaja dilakukan PT PAM Jaya untuk memperoleh keuntungan lebih besar. Bahkan melampaui dari harga air bersih di banyak tempat. 

Dicontohkan Agus, tarif air bersih untuk wilayah kerja Palyja adalah Rp 7.800 dan untuk wilayah kerja Aetra adalah Rp 6.800. Tarif air tersebut sangat mahal dibandingkan dengan Kota Surabaya yang hanya Rp 2.600. Bahkan pemerintah Bekasi mengenakan tarif air bersih sebesar Rp 2.300 per kubiknya. ”Kesenjangan tarif tersebut bukan tanpa alasan. PT PAM Jaya dan mitra swastanya sengaja melakukan itu dengan perjanjian-perjanjian tertentu,” paparnya.

Lebih dalam lagi, Agus menyebutkan penyimpangan tersebut dibuktikan dari laporan Badan Pengawan Keuangan Pembangunan (BPKP). Lembaga auditor negara itu juga telah mengingatkan adanya keuntungan yang dibayar terlalu tinggi kepada swasta. 

Dalam rekomendasi BPKP, tambah dia, menunjukan pembebanan nilai atas investasi modal yang menjadi komponen penentu imbalan harusnya hanya 14,68 persen bukan 22 persen seperti sekarang. "Kalau hitungan BPKP digunakan, maka idealnya harga air hanyalah Rp 4.662 per kubiknya. Nyatanya PAM Jaya dan mitra swastanya menetapkan Rp 7.020 per kubik. Ini yang jadi persoalan," tuturnya.

Dengan kondisi tersebut ICW meminta KPK menyelidiki mahalnya tarif air yang diduga telah merugikan negara paling tidak sekitar Rp 561 miliar. Menurut Agus, dalam menetapkan tarif air, setiap lima tahun sekali PAM Jaya bersama mitra kerjanya menggelar rapat untuk menyepakati nilai harga air (rebaising). Kesepakatan itulah yang menjadi titik awal tindak korupsi.(rko/wok)

 

 



 

 
Dugaan Korupsi Rp 561 Miliar, PAM Jaya Dilaporkan ke KPK

Jakarta   :   31 Januari 2012

 

Sumber   :   www.tribunnews.com

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sejumlah aktivis dari Koalisi Mayarakat Anti Swastanisasi Air Jakarta melaporkan dugaan korupsi penyimpangan penetapan tarif air swasta (imbalan) lima tahunan antara Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya dan mitra swasta asing atau rebasing senilai Rp 561,41 miliar ke Komisi Pemberantasan Korupsi, di Jakarta, Selasa (31/1/2012).

"Pada proses yang disebut rebasing ini diduga pihak PAM Jaya memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi dengan cara bersedia menyetujui penetapan-penetapan harga dan target yang merugikan pelanggan dan pemerintah," ujar perwakilan pelapor, Kepala Divisi Investigasi ICW, Agus Sunaryanto, seusai membuat laporan.

Agus menjelaskan, pengelolaan air mulai produksi hingga distribusinya telah dikelola oleh pihak swasta sejak 13 tahun lalu. Harga air di Jakarta terbilang paling mahal dibanding wilayah lain. Sebut saja untuk wilayah kerja Palyja yang mencapai Rp 7.800/m3 dan untuk wilayah kerja Aetra sebesar Rp 6.800/m3. Sementara, harga air di Surabaya hanya Rp 2.600/m3 atau di Bekasi yang hanya Rp 2.30/m3.

Menurutnya, mahalnya tarif air untuk pelanggan di Jakarta, karena dalam kesepakatan rebasing harus memuat nilai keuntungan yang tinggi bagi pihak mitra swasta. Di sisi lain, tarif air yang tinggi justru menyebabkan PAM Jaya mempunyai kewajiban membayar utang kepada pihak swasta.

Ada sejumlah biaya yang tidak seharusnya masuk ke dalam nilai imbalan, seperti ongkos-ongkos untuk pekerjaan asing atau ekspatriat di PT Palyja. "Menurut kami, penetapan nilai imbalan yang tinggi adalah bentuk 'pemerasan' terselubung kepada konsumen dan pemerintah," tandasnya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh koalisi ini, bahwa utang PAM Jaya kepada swasta telah mencapai Rp 561,41 miliar. Apabila PAM Jaya tak mampu membayar, maka utang yang potensial terus membengkak itu akan menjadi beban Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Menteri Keuangan.

Koalisi ini menduga terjadi praktik penyimpangan dalam proses rebasing bermodus pelonggaran target sehingga menguntungkan pihak swasta, terutama pengurangan target volumen air yang terjual dan tingkat kebocoran.

"Pada volume air terjual, volumenya dikurangi sementara untuk tingkat kebocoran persentasenya dinaikkan," jelasnya.

Akibat penyimpangan dalam proses rebasing tersebut, lanjut Agus, diduga telah menyebabkan terjadinya kerugian negara sebagaimana disebut sebesar Rp 561,41 miliar.

Perwakilan pelapor dari Koalisi Rakyat untuk Hak atas Air (KRUHA), Muhammad Reza, menambahkan bahwa hari ini tengah berlangsung rebasing 2012 oleh kedua pihak di Jakarta. Namun, pertemuan itu tertutup.

"Saya harap KPK memantau ini. Jangan sampai rebasing ini berdampak kepada masarakat lagi," imbuhnya.

 

 


Warning: Parameter 3 to botRokBox() expected to be a reference, value given in /home/jakarta/public_html/libraries/joomla/event/dispatcher.php on line 136
Jakarta Masih Kekurangan Air Bersih Cetak E-mail

Jakarta  :  17 Februari 2012

 

Sumber  : www.republika.co.id

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Warga DKI Jakarta masih kekurangan pasokan air bersih sekitar 3 ribu liter per detik. Data PAM Jaya menyebutkan, kebutuan pasokan air di Jakarta sebanyak 21 ribu liter per detik. Namun, saat ini pasokan yang mampu disediakan PAM Jaya hanya sekitar 18 ribu liter per detik.

Direktur Utama PAM Jaya, Sriwidayanto mengatakan, kekurangan tersebut akan diupayakan dalam dua tahun ke depan. ‘’Kami ingin meningkatkan air ke Jakarta dan sekitarnya. Khusus Jakarta, kami ingin meningkatkan lagi menjadi 21 ribu liter per detik,’’ ujar Sriwidayanto, di Jakarta, Jumat (17/2).

Menurutnya, saat ini masih banyak daerah-daerah yang membutuhkan pasokan air bersih. Pemenuhan sisa kebutuhan air bersih tersebut bisa diperoleh dari pasokan air Waduk Jatiluhur dengan cara mengganti pipa yang lebih besar.

PAM Jaya berharap, proyek penggantian pipa tersebut dapat terselesaikan pada 2015 mendatang. Ini dimaksudkan agar pasokan air minum di semua daerah dapat tercukupi.

 
Beranda
Nasional
Pelanggan
Prakerjasama
Periode Kerjasama
Hukum
Keuangan
Tehnik
Lain - Lain
Polling
Apakah menurut anda tarif air bersih sangat tepat dinaikkan pada saat ini ?
 
Kami memiliki 9 Tamu online
TCP / IP Anda : 38.107.179.229